Ontologi; Metafisika, Asumsi, Dan Peluang

Ontologi:

Metafisika, Asumsi, Dan Peluang

 

  1. 1.        Pendahuluan

Para filosof berusaha memecahkan masalah-masalah yang penting bagi manusia, baik langsung atau tidak langsung. Melalui pengujian yang kritis, filosof mencoba untuk mengevaluasi informasi-informasi dan kepercayaan-kepercayaan yang kita miliki tentang alam semesta serta kesibukan dunia manusia. Filosof mencoba membuat generalisasi, sistematika, dan gambaran-gambaran yang konsisten tentang semua hal yang kita ketahui dan kita pikirkan. Tanpa melihat tujuan, pekerjaan, dan latar belakang pendidikan

sosialnya, para filosof telah menyumbangkan keyakinan mengenai pentingnya pengujian dan analisis yang kritis terhadap pandangan-pandangan manusia, baik yang bersumber dari pengalaman sehari-hari, berdasarkan penemuan-penemuan yang ilmiah, maupun yang bersumber dari kepercayaan agama. Para filosof ingin menelusuri lebih mendalam apakah dapat dibuktikan kebenaran-kebenaran dari pandangan-pandangan atau kepercayaan-kepercayaan manusia itu.  Filosof ingin menemukan, apa ide dasar atau konsep yang kita miliki, apa dasar pengetahuan kita, dan standar (ukuran) apa yang dipakai untuk membuat pertimbangan yang baik. Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam ini, filosof merasa bahwa ia dapat mencapai pemahaman yang lebih bermakna tentang alam semesta, dunia, dan manusia.  Filsafat mencoba untuk memadukan hasil-hasil dari berbagai ilmu yang berbeda ke dalam suatu pandangan dunia yang konsisten. Filosof cenderung untuk tidak menjadi spesialis seperti ilmuan menganalisis dengan suatu pandangan yang menyeluruh tentang benda-benda atau masalah-masalah.  Filsafat adalah berbifikir secara radikal, sistematis, dan universal tentang segala sesuatu. Jadi yang menjadi objek pemikiran filsafat ialah segala sesuatu yang ada. Semua yang ada menjadi bahan pemikiran filsafat. Namun karena filsafat merupakan usaha berpikir manusia secara sistematis, maka disini perlu mengsistematisasikan segala sesuatu yang ada.

  1. 2.      Ontologi

Tokoh yang membuat istilah ontologi adalah Christian Wolff (1679-1714) istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu ta onta berarti segala sesuatu yang ada dan logia berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Dengan demikian, ontologi adalah ilmu pengetahuan atau segala sesuatu yang ada.  Louis O. Kattoff membedakan antara metafisika dan ontologi. Metafisika adalah pengetahuan yang mempersoalkan sesuatu di sebalik yang tampak. Sedangkan ontologi  esensi dari yang ada hakikat adanya segala ujud yang ada. Jadi, persoalan yang pertama menyangkut masalah ontologi. Dengan demikian menurut Louis O. Kattsoff, antologi adalah bagian dari metafisika.

  1. 3.        Metafisika

Metafisika berasal dari  bahasa Yunani meta  yang berarti selain, sesuadah atau sebalik, dan fisika yang berarti alam nyata. Maksudnya ilmu yang menyelidiki hakikat segala sesuatu dari alam nyata dengan tidak terbatas pada apa yang dapat ditangkap oleh panca indra saja Hasbullah (dikutif surajiyo, 2005:115)

Pengertian metafisika menurut Van Peuten (dikutif Surajiyo, 2005:115) adalah bagian filsafat yang memusatkan perhatian pada pertanyaan mengenai akar terdalam yang mendasari segala adanya kita. Metafisika mempelajari manusia, namun yang menjadi objek pemikirannya bukanlah manusia dengan segala aspeknya, termasuk pengalaman yang ditangkap oleh indra. Sosiologi mempelajari manusia dalam bentuk kelompok serta interaksinya yang dapat ditangkap indra serta yang berada dalam pengalaman manusia.             Bidang telaah filsafat yang disebut metafisika merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafat termasuk pemimikiran ilmiah. Diibaratkat pikiran adalah roket yang meluncur ke bintang-bintang, menembus galaksi dan awan gemawan, maka metafisika landasan peluncurnya.

3.1    Beberapa Tafsiran Metafisika

Tafsiran pertama yang diberikan oleh manusia terhadap alam ini adalah manusia terhadap alam ini  bahwa terdapat ujud-ujud yang bersifat gaib (supernatural) dan ujud-ujud ini bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata. Animisme merupakan kepercayaan yang berdasarkan pemikiran supranaturalisme di mana manusia percaya bahwa roh-roh yang bersifat gaib yang terdapat dalam benda seperti batu, pohon dan air terjun.

Paham naturalisme yang menolak pendapat bahwa terdapat ujud-ujud yang bersifat supernatural, materalisme, yang merupakan paham berdasarkan naturalisme ini berpendapat bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang sifat gaib, melainkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri yang dapat kita pelajari dan dapat kita pahami. Prinsip naturalisme ini dikembangkan oleh Democritos (460-370 S.M) mengembangkan tiori tentang atom. Bagi Democritos, unsur dasar dari alam ini adalah atom dan kehampaan itulah yang bersifat nyata. Hanya berdasarkan berdasarkan kebiasaan saja akan manis itu manis, panas itu panas, dingin itu dingin, warna itu warna. Dalam kenyataannya hanya terdapat atom dan kahampaan. Artinya, obyek dari penginderaan sering kita anggap nyata, padahal tidak demikian. Hanya atom dan kehampaan itulah yang bersifatnyata terimologi yang kita berikan kepada gejala yang kita tangkap lewat pancaindera. Rangsangan pancaindera ini disalurkan ke otak kita dan menghadirkan gejala tersebut. Dengan demikian maka gejala alam dapat didekati dari segi proses kimia-fisika.

Kaum yang menganut paham mekanistik ditentang oleh kaum vitalistik.  Mekanistik dikembangkan oleh Galileo (1564-1641) melihat gejala alam (termasuk mahluk hidup) hanya merupakan gejala kimia-fisika semata. Sedangkan bagi kaum vitalistik yang dikembangkan oleh Hendry Bersgson (1859-1941) menyebutkan hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substantif tidak dapat sepenuhnya dijelaskan secara fisika-kimiawi, karena hakikatnya berbeda dengan yang tidak hidup

Lalu apa dengan pikiran dan kesadaran itu sendiri?

Secara fisiologis otak manusia terdiri dari 10 sampai 15 biliun neuron. Neuoron adalah sel saraf yang merupakan dasar dari keseluruhan sistem saraf. Cara kerja otak ini merupakan obyek telaahan dari berbagai sisiplin keilmuan seperti fisologi, psikologi, kimia, matematika, fisika dan lain sebagainya. Dalam hal ini maka aliran monistik mempunyai pendapat yang tidak membedakan antara pikiran dan zat. Mereka hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai substansi yang sama. Ibarat zat dan energy, dalam teori relativitas Einstein, energy hanya merupakan bentuk lain dari zat. Dalam hal ini maka proses berpikir dianggap sebagi aktivitas elektrokimia dari otak. Jadi yang menjadikan robot dan manusia bagi kaum yang menganut paham monistik hanya terletak pada komponen dan struktur yang membangunnya dan sama sekali bukan terletak pada substansinya yang pada hakikatnya menyamai manusia, maka robot itu pun bisa menjadi manusia. Aliran  monistik dikembangkan oleh Christian Worlff(1679-1754).

Pendapat ini ditolak oleh kaum yang menganut paham dualistik. Dalam metafisika maka penafsiran dualistik membedakan antara zat dan kesadaran (pikiran) yang bagi mereka berbeda sui generis secara substantif. Filsuf yang menganut paham dualistik ini diantranya adalah Rene Descartes (1596-1650), John Locke (1632-1714) dan GeorgeBerkeley (1685-1783). Ketiga akhli filsafat ini berpendapat bahwa apa yang ditangkap oleh pikiran termasuk penginderaan dari segenap pengalaman manusia, adalah bersifat mental.

  1. 4.        Asumsi          

Para filsuf menduga-duga apakah gejala dalam alam ini tunduk kepada determinisme, yakni hukum alam yang bersifat universal, ataukah hukum semacam itu tidak terdapat sebab setiap gejala merupakan akibat pilihan bebas, ataukah memang ada namun berupa peluang, sekadar tangkapan probabilistik? Ketiga masalah ini yakni determinisme, pilihan bebas dan probabilistik merupakan permasalahan filsafati yang rumit namun menarik. Tanpa mengenal ketiga aspek ini, serta bagaimana ilmu sampai pada pemecahan salah yang merupakan kompromi, akan sukar bagi kita untuk mengenal hakikat keilmuan dengan baik.

Pembatasan mengenai determinisme, pilihan bebas dan probabolistik itu baru dapat dilakukan sekiranya bahwa hukum semacam itu memang ada. Sekiranya hukum yang mengatur kejadian alam itu tidak ada  maka masalah determinisme, probalitas dan kehendak bebas itu sama sekali tidak akan muncul. Sekiranya hukum alam itu memang benar-benar tidak ada maka tidak akan ada permasalahan dengan determinisme, probabillistik atau pilihan bebas, dengan demikian maka tidak ada masalah tentang hubungan logam dengan panas, tekanan dengan volume, atau IQ dengan keberhasilan belajar.

Paham deteminisme dikembangkan oleh William Hamilton (1788-1856) dari doktrin Thomas Hobbes (1588-1679) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah bersifat empiris yang dicerminkan oleh zat dan gerak yang bersifat universal. Aliran filsafat ini merupakan lawan dari paham fatalisme yang berpendapat bahwa segala kejadian ditentukan oleh nasib yang telah ditetapkan lebih dulu. Demikian juga paham determinisme ini bertentangan dengan penganut pilihan bebas yang menyatakan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan pilihannya tidak terikat kepada hukum alam yang tidak memberikan alternatif.

Untuk meletakkan ilmu dalam perspektif filsafati ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri apakah sebenarnya yang ingin dipelajari ilmu? Konsekuen dari pilihan ini jelas, sebab sekiranya  hukum kejadian yang berlaku bagi seluruh manusia, maka kita harus bertolak dari paham determinisme. Sekiranya kita memilih hukum kejadian yang bersifat khas bagi tiap individu manusia maka  kita berpaling terhadap paham pilihan bebas. Sedanggkan posisi tengah yang terletak diantara keduanya mengantarkan kita pada sifat probabilistik.

  1. 5.        Peluang

Berdasarkan teori-teori keilmuan  saya tidak akan pernah mendapatkan hal yang pasti mengenai suatu kejadian, tanya seorang awam kepada seorang ilmuan. Ilmuan itu menggelengkan kepala tidak, jawab seorang ilmuan sambil tersenyum apologetik, hanya kesimpulan yang probabilistik. berdasar meteorology dan geofisika saya tidak pernah merasa pasti bahwa esok hari akan hujan atau tidak akan hujan. Sambung orang awam, kian penasaran. Seorang ilmuan hanya bisa mengatakan, umpamanya, bahwa dengan probabilistik 0,8 esok tidak akan turun hujan.

”Apa artinya peluang 0,8 ini?” tanya orang awam.

Peluang 0,8 secara sederhana dapat diartikan bahwa probabilistik untuk turung hujan esok adalah 8 dari 10 (yang merupakan kepastian). Atau sekiranya saya merasa pasti (100 persen) bahwa esok akan turun hujan maka saya akan berikan peluang 1.0. atau dengan perkataan lain yang lebih sederhana, peluang 0,8 mencirikan bahwa pada 10 kali ramalan tentang akan jatuh hujan, 8 kali memang hujan itu turun, dan dan dua kali ramalan itu meleset.

Jadi, biarpun kita mempunyai 0,8 bahwa hari akan hujan namaun masih terbuka kemungkinan bahwa hari tidak akan hujan?

”Benar demikian,” sahut ilmuan.

”Lalu apa keguanaan pengetahuan semacam itu?” kata orang awam.

Pertama harus saudara  sadari bahwa ilmu tidak pernah ingin dan tidak pernah berpretensi untuk mendapatkan penggetahuan yang bersifat mutlak. (dalam soal pretensi ini maka ilmu kalah dengan pengetahuan perdukunan. Saudara pasti sembuh, ujar dukun, minum saja air ini. Jelas dia tidak pernah mengatakan: minum air ini dan dengan peluang 0,8 maka saudara akan sembuh). Ilmu memberikan pengetahuan sebagai dasar bagi saudara untuk mengambil keputusan, di mana keputusan saudara harus didasarkan kepada penafsiran kesimpulan ilmiah yang bersifar relatif. Dengan demikian maka kata akhir dari suatu keputusan terletak di  tangan saudara dan bukan pada teori-teori keilmuan. (itulah mungkin sebabnya orang yang tidak pernah mau mengambil keputusan sendiri lebih senang pergi ke dukun. Berkonsultasi pada ahli psikologi atau psikiater paling-paling diberi alternatif-alternatif yang dapat diambil, sedangkan dukun dengan pasti akan berkata: pilih jalan ini, saya jamin, pasti berhasil).


 

 

 

 DAFTAR PUSTAKA

Surajiyo. 2005. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara.

Suriasumantri, Jujun S. 2001. Filsafat Ilmu Suatu Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s