KATA SAPAAN BAHASA KOMERING DIALEK MADANG SUKU II KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. 1.      Latar Belakang

Bahasa digunakan oleh kelompok manusia untuk berkomunikasi dengan demikian bahasa dan manusia mempunyai hubungan yang sangat erat. Tak ada bahasa jika tidak ada manusia sebagai pendukungnya bahasa adalah suatu sistem lambang bunyi, bersifat arbiter, digunakan oleh seorang masyarakat tutur untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri (Chaer, 2000:1).

            Bahasa daerah sebagai komponen budaya merupakan bagian dari keberdayaan bangsa Indonesia yang hidup dan berkembang yang harus dijaga kelestariannya. Salah satu bahasa daerah itu adalah bahasa komering. Bahasa Komering Dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur dipakai sebagai alat komunikasi masyarakat komering dalam keluarga sedangkan dalam pertemuan resmi masyarakat komering menggunakan bahsa Indonesia. Kata sapaan dialek komering menggunakan salah satu bahasa daerah yang masih dipakai serta dipelihara oleh masyarakat pemakainya. Kata sapaan dalam bahasa komering Dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur merupakan lambang identitas kebudayaan daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Bahasa komering adalah salah satu bahasa daerah yang terdapat di Indonesia juga merupakan pendukung keutuhan dan kesinambungan kehidupan kebudayaan Indonesia. Fungsi dan kedudukan bahasa daerah sungguh penting sehingga di dalam UUD1945 Bab XV, pasal 36 dinyatakan bahwa. Bahasa-bahasa daerah yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik akan dihormati dan dipelihara oleh Negara. Karena bahasa itu merupakan sebagian dari kebudayaan. Selain daripada itu bahasa daerah penting pula untuk usaha dan program pengembangan serta pembakuan bahsa nasional Indonesia.

            “Sebagai bahasa yang hidup dan berkembang, bahasa daerah tidak akan terlepas dari pengaruh bahasa lain, baik pengaruh bahasa daerah lain maupun bahsa Indonesia bahkan pengaruh bahasa asing. Apabila tampa disadari mungkin saja suatu saat bahasa daerah akan tergeser atau punah. Tergesernya salah satu bahasa daerah berarti hilangnya salah satu kekayaan budaya yang berharga” (Halsim,1976:46).

            Dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, bahasa komering Dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur juga memiliki fungsi (1) lambang kebanggaan daerah, (2) lambang identitas daerah, (3) alat penghubung dalam keluarga dan masyarakat daerah. Dalam ruang lingkup daerah komering Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur.

            Penelitian ini dapat dijadikan bahan informasi untuk mengkaji Kata Sapaan  Bahasa Komering Dialek Madang Suku II Kabupaten  Ogan Komering Ulu Timur. Merupakan lambang identitas kebudayaan daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Apabila suatu saat bahasa daerah akan bergeser karena masukan nilai-nilai baru maka generasi yang akan datang  bisa mengetahui dengan membaca hasil penelitian yang dilakukan ini, karena kata sapaan itu sangat penting untuk menyapa orang dalam berkomunikasi.

Api niku haga lapah rik kamanakan mu

Apakah kamu mau jalan sama keponakanmu

Akas haga dipa niku?

Kamu mau mau kemana kek?…

            Berdasarkan contoh kata penyapa di atas, kata penyapa bahasa komering dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur memiliki bentuk yang unik, karena digunakan dengan hubungan kekerabatan. Penggunaan kata penyapa seperti di atas secara umum digunakan dalam bahasa Komering secara umum. Penutur bahasa Komering umumnya menggunakan kata penyapa sebagaimana halnya sapaan yang digunakan dalam bahasa Indonesia. Keunikan tersebut disebabkan oleh perbedaan letak geografis, dan budaya daerah, sehingga bahasa daerah Komering yang digunakan vervariasi antara satu daerah dengan daerah yang lain, termasuk kata penyapa.

            Selanjutnya, kata penyapa dalam bahasa Komering dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur dapat di tinjau dari (1) hubungan darah (keluarga) misalnya kakak/adik, ipar; (2) kata sapaan dalam masyarakat; (3) kata sapaan mesra

            Dari uraian di atas, untuk mengetahui bagai mana bentuk kata sapaan dalam bahasa Komering Dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur  perlu dilakukan  penelitian. Tempat penelitian ini dilakukan di daerah komering, jarak tenpuhnya 165 Km dari kota Palembang.

Kajian yang terdahulu yang relevan merupakan suatu bahasan yang dihubungkan dengan penulis serta dijadikan acuan pada penulisan  penelitian ini, oleh karena itu, penulis mengambil bahan acuan tersebut dari penelitian:

1)        Yatim (1984) yang berjudul “Sistem Honorifik Bahasa Makasar: Sebuah analisis Sosiolinguistik.” Hasil penelitian ini menyebutkan tiga pola sapaan dalam bahasa Makasar, yaitu (a) pola sapaan dengan selector utama hubungan darah/kaum bangsawan; (b) pola sapaan utama pekerjaan/jabatan; (c) pola sapaan dengan selector utama hubungan keluarga.

2)      Hasyim (2005) yang berjudul “Penggunaan Bahasa pada Masyarakat Tutur: kajian Sosiolinguistik  di Kabupaten Goa.” Ada tiga  status sosial  yang menentukan variasi penggunaan  bahasa, khususnya bentuk kata penyapa, yaitu (a) status sosial lebih tinggi; (b) status sosial sederajat; dan (status sosial lebih rendah).

3)      Danto (2002) yang berjudul “Sistem Sapaan Dalam Masyarakat Telang.” Hasil penelitian ini menyebutkan ada tiga bentuk kata sapaan dalam masyarakat Telang, yaitu (a) kata sapaan dalam keluarga langsung; (b) kata sapaan dalalm keluarga tidak langsung; (c) variasi bahasa berdasarkan status sosial yang lebih, tinggi, sederajat dan rendah.

            Perbedaan penelitian dengan penelitian sebelumnya  terletak pada tempat penelitian dan bahasa yang diteliti. Persamaan dalam penelitian ini, sama-sama ingin mengetahui bagaimanakah persamaan dan perbedaan bahasa daerah masing-masing berdasarkan hubungan kekeluargaan langsung, hubungak diluar kekeluargaan dan kata sapaan mesra atau sayang.

2. Masalah

Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah Kata Sapaan Bahasa Komering Dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur?

3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui Kata Sapaan Bahasa Komering Dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur.

 

4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pembaca, pemakai dan penulis.

  1. Bagi pembaca, dengan mengenal bahasa daerah kita bisa mengenal pelbagai macam faktor penting yang menentukan corak dan struktur masyarakat Indonesia.
  2. Bagi pemakai bahasa, untuk mengetahui perbedaan kata sapaan Bahasa Komering Dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur dengan bahasa Indonesia.
  3. Bagi penulis, untuk menumbuhkembangkan kata sapaan Bahasa Komering Dialek Madang Suku II Kabupaten  Ogan Komering Ulu Timur dari pengaruh bahasa lain.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

2.1 Kajian Literatur

2.1.1  Pengertian Kata Sapaan

            Didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:1998) diperoleh keterangan bahwa kata sapaan adalah ajakan untuk mencakup; teguran; lingkungan kata atau frase untuk saling merujuk dalam pembicaraan dan yang berbeda-beda menurut sipat hubungan di antara pembicara itu. Kata sapaan adalah kata-kata yang digunakan menyapa, menegur orang kedua, atau orang yang diajak berbicara (Chaer, 1997:107), “semua bahasa mempunyai bahasa tutur atau turtur sapa, yakni sistem yang mempertautkan seperingkat kata-kata atau ungkapan yang dipakai  untuk menyapa para pelaku dalam suatu peristiwa” (Syafyahya, 2000:3).

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat dirumuskan bahwa kata sapaan adalah kata-kata yang digunakan untuk menyapa, menengur orang yang diajak bicara menurut sifat hubungan antara pembicara itu baik secara lisan maupun tulisan.

2.1.2 Bentuk-Bentuk Kata Sapaan

            Menurut (Chaer, 1997: 108) Jenis kata sapaan dapat dikelompokkan menjadi (1) kata sapaan dalam kelurga, (2) kata sapaan dalam masyarakat, dan (3) kata sapaan mesra.

2.1.2.1 Kata Sapaan dalam Keluarga (Hubungan Kekeluargaan Langsung)

            Kata sapaan adalah kata-kata yang menunjukkan hubungan atau kekerabatan dengan pihak diri pertama (Chaer, 1997;108-109). Kata sapaan dalam keluarga atau hubungan kekelurgaan langsung di dalam masyarakat Komering merupakan kata sapaan yang digunakan untuk menyapa seseorang yang masih memiliki garis keturunan. Misalnya:

1) Bapak

            Kata bapak yang berfungsi sebagai kata sapaan digunakan terhadap orang tua laki-laki     

Contoh : Kata Nani kepada ayahnya, “Pak, besok Nani harus membawa buku Matematika”

2) Ibu  

            Kata ibu yang berfungsi sebagai kata sapaan digunakan terhadap orang tua perempuan, atau yang dianggap sebagai orang tua perempuan kandung.

Contoh : “Ibu, bolehkah Tarmizi belajar mengendarai sepeda?” Tanya Tarmizi kepada Ibunya.

4) Kakak

            Kata kakak yang berfungsi sebagai kata sapaan digunakan terhadap saudara lebih tua, baik perempuan maupun laki-laki;  

a)      Saudara Laki-laki atau perempuan yang diperkirakan lebih tua usianya;

Contoh : “Kak, nanti siang saya mau ke pasar ?”

5) Adik

            Kata adik berfungsi sebagai kata sapaan digunakan terhadap:

a)      Saudara yang lebih muda (Laki-laki atau Perempuan);

Contoh : “Dik, tolong ambilkan kakak buku itu!” kata Tresi kepada Ani, adiknya.

b)      Laki-laki atau perempuan yang diperkirakan lebih muda usianya;

Contoh : “Dik, nanti sore kamu mau pergi ke mana ?”

6) Kakek

            Kata kakek berfungsi sebagai kata saapaan yang digunakan terhadap orang tua kandung laki-laki.

7) Nenek

            Kata nenek berfungsi sebagai kata sapaan yang digunakan terhadap orang tua kandung perempuan.

2.1.2.2 Kata Sapaan dalam Masyarakat Di Luar Kekeluargaan 

            Kata sapaan dalam masyarakat adalah kata-kata yang digunakan untuk menyapa orang atau anak yang tidak mempunyai hubungan keluarga (Muzamil,1997:66).  Kata sapaan yang digunakan sebagai penyapa dalam masyarakat umumnya sama dengan sapaan dalam persaudaraan langsung. Kata sapaan dalam masyarakat tersebut adalah (1) untuk orang lebih tua, (2) untuk orang yang lebih muda, (3) untuk orang yang sebaya, (4) untuk orang yang belum dikenal (5) untuk orang yang sudah meninggal dunia (Muzamil,1997:66-70).

1) Sapaan untuk orang yang lebih tua

            Untuk orang yang lebih tua digunakan kata sapaan Kakek, Nenek, Paman, Bibik (Muzamil,1997:66).

Contoh : “Kakek, dimana Amri pergi?”

“Nenek, mau pergi kemana?”

“Paman, apakah Amir sudah pulang dari kuliah?”

“Bibik, apakah Nia sudah berangkat sekolah?”

2) Sapaan untuk orang yang lebih muda

            Dalam masyarakat dibenarkan seseorang menyapa orang atau anak yang lebih muda dengan menyebut nama saja. Kalau orang yang lebih muda tersebut sudah menikah, orang tersebut biasanya akan disapa dengan nama saja. Untuk yang masih anak-anak baik laki-laki maupun perempuan akan disapa dengan adik atau dipanggil nama (Muzamil, 1997:67).

Contoh : “Kapan Udin pulang?”

“Nak, dimana Tarmizi?”

“Edi, kemana bapak pergi?”

3) Sapaan untuk orang yang sebaya.

            Sapaan untuk orang yang sebaya ada tiga macam, yaitu penyapa untuk sama-sama tua, penyapa untuk sama-sama muda, dan penyapa untuk sama-sama anak-anak (Muzamil, 1997:68).

  1. Penyapa untuk orang yang sama-sama tua. Penyapa yang diguanakan untuk orang yang sama-sama tua yaitu saling menyebut nama.
  2. Penyapa untuk orang yang sama-sama muda. Penyapa yang digunakan untuk orang yang sama-sama muda digunakan juga saling menyebut nama, tetapi terdapat juga penyapa khusus yang digunakan  sebagai penyapa untuk sama-sama muda.

      Contoh : “Apakah yang sedang dikerjakan, Mas?”

  1. Penyapa untuk orang yang sama-sama anak-anak. Penyapa yang digunakan untuk orang yang sama-sama kecil atau anak-anakyaitu saling menyebut nama.

      Contoh : “Nani, besok kita mau pergi kemana?”

4) Sapaan untuk orang yang belum dikenal

            Apabila seseorang terpaksa harus berbicara dengan orang yang belum dikenal orang tersebut harus menyesuaikan dengan perbandingan umur antara pembicara dan lawan bicara (Muzamil, 1997:70).

a)      Pembicaraan dengan orang  yang lebih tua.  Biasanya kata sapaan yang digunakan adalah Bapak, Ibu, dan Kakak.

      Contoh : “Mengapa Bapak kemarin tidak datang ke kantor?”

“Sebaiknya Bapak pergi dari sini sebelum dia datang?”

“Kakak”, kemana Amir pergi?”

b)      Pembicaraan dengan orang sebaya. Antara pembicaraan dengan orang yang kira-kira usianya sebaya, pembicaraan biasanya menyapa dengan kata sapaan saudara, dan anda.

Contoh : “Apakah saudara tahu rumah Nia?”

“Bisakah anda memberi tahu saya jalan menuju stasiun Kereta Api?”

c)      Pembicara dengan orang yang lebih muda.Untuk menyapa orang yang belum dikenal tetapi lebih muda, pembicara menggunakan kata sapaan adik.

Contoh : “Apakah adik kenal dengan Nica anak Pak Hasan?”

5) Sapaan untuk orang yang meninggal dunia

            Sapaan yang digunakan untuk orang yang sudah meninggal dunia, untuk laki-laki adalah Almarhum, sedangkan untuk perempuan adalah Almarhumah.

Contoh : “Dia menantu Almarhumah nenek Asro.”

“Almarhum kakek di makamkan di pemakaman umum.”

2.1.2.3 Kata Sapaan Mesra

            Menurut Sudjarwa (1981:266), kata sapaan mesra atau kesayangan adalah kata sapaan yang digunakan dalam berkomunikasi verbal antara orang-orang yang saling mengasihi. “kata-kata yang digunakan dalam sapaan mesra meliputi:

1)      Kata-kata panggilan keluarga, kekerabatan, baik dalam bentuk yang dipendekkan atau tidak;

      Conyoh :  “Dengan surat ini, Ananda memberi kabar.”

                “Ayahanda sudah menerima surat Ananda.”

2)      Nama yang dipendekkan atau tidak

contoh :   “Dik Desi pergi kepesta dengan ibu.”

                “Dik Masyah, maukah adik menemani kakak?”

3)      Kata pujian, yang dapat berupa ungkapan dengan kata-kata buah hati, panggilan sayang dan sebagainya.

      Contoh : “Tresi  adalah permata hati keluarga.”

“Yang kamu tambah cantik deh.”

2.1.3 Pengertian Dialek

            Dialek adalah kumpulan idialek-idialek yang ditandai ciri-ciri khas dalam tata bunyi, kata-kata, ungkapan-ungkapan dan lain-lain (Keraf, 1984:118). Menurut Awasilah (1989:51)” Dialek adalah sub unit dari bahasa. (Bahasa yang sebenarnya satu variasi bahasa juga) disepakati untuk menjaga bahasa nasional karena memiliki kedudukan lebih tinggi disbanding deialek. Selanjutnya keraf (1994:17) menyatakan bahwa “Dialek adalah kelompok idialek yang menunjukkan ciri khas dalam tata bunyi, kata-kata, ungkapan-ungkapan dan lain-lain yang dapat membedakannya dari kumpulan-kumpulan dialek lainnya yang disepakti untuk menjadi bahasa nasional.

2.1.4 Anggapan Dasar

            Arikunto (1993:55) mengemukakan “Anggapan dasar ialah titik tolak pemikiran untuk sementara tidak dipersoalkan kebenarannya atau titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima umum”. Berdasakan pengertian tersebut, penulis mengemukakan anggapan dasar penelitian ini sebagai berikut :

  1. Bahasa Komering Dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur mempunya ciri-ciri yang tidak jauh berbeda dengan bahasa melayu.
  2. Masyarakat yang berada di daerah Komering Dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur sehari-hari menggunakan alat komunikasi antar anggota masyarakat di daerah tersebut.

2.1.5 Hipotesis Penelitian

Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap masalah penulisan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Arikunto,1997:64).

            Hipotesis penelitan ini adalah  bahasa Komering Dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur memiliki tingkat  dan pariasi yang sangat baik.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

3.1 Metode Penelitian

            Metode yang digunakan ini adalah metode deskriptif. Menurut (Sudaryanto, 1992:54) “Istilah deskriptif itu menyarankan bahwa penelitian yang dilakukan berdasarkan fakta, walaupun bahan yang diolah dipilih sesuai dengan tujuan penelitian”. Metode ini digunakan untuk mengetahui gambaran tentang Analisis Kontrastif Kata Sapaan Baha Komering Dialek Madang Suku II Kabupaten  Ogan Komering Ulu Timur, yang mencakup : (1) kata sapaan dalam keluarga (2) kata sapaan dalam masyarakat, dan (3) kata sapaan mesra. Jadi dalam penelitian ini mengumpulkan fakta yang ada, mengumpulkan data sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu mendeskripsikan secara lengkap kata sapaan bahasa Komering Dialek Madang Suku II Kabupaten  Ogan Komering Ulu Timur.

3.2 Teknik Penelitian

            Teknik penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.

 

3.2.1 Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data tentang Analisis Kontrastif Kata Sapaan Baha Komering Dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur penulis menggunakan teknik observasi, wawancara, dan perekaman.

3.2.1.1 Observasi

            Observasi adalah pengamatan langsung pada suatu objek yang akan diteliti (Keraf,1994:162). Dengan teknik obsevasi ini, penulis melakukan obsevasi secara langsung ke daerah yang menjadi objek penelitian dengan tujuan untuk mengecek sendiri sampai dimana kebenaran data informasi. Yang telah dikumpulkan serta untuk mencari informasi tentang penutur asli bahasa Komering Dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur  yang akan dijadikan informan.

3.2.1.2 Wawancara

            Wawancara atau interview adalah Tanya jawab dengan seseorang yang diperlukan untuk diminta keterangan mengenai suatu hal (Poerwadarmita, 2001:1270) atau suatu cara untuk mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada seseorang informan atau seseorang autoritas (Seseorang ahli atau yang berweang dalam suatu hal) (Keraf, 1994:161). Wawancara ini untuk memancing ujaran informan dengan seperngkat intrumen yang akan dilakukan berapa perangkat terjemahan perangkat terjemahan ini berisikan kata sapaan dan kalimat yang dibagi menjadi istrumen I berbentuk kata sapaan dan intrumen II yang berbentuk kalimat. Penulis mengadakan wawancara dengan informan dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang bertujuan untuk memperoleh data tentang pemakaian kata sapaan Bahasa Komering Dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur.

3.2.1.3 Perekaman

Perekaman adalah proses, cara pembuatan rekaman (Poerwadarminata, 1996:812). Dengan tehnik perekam akan diperoleh data secara lengkap tentang kata sapaan Bahasa Komering Dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. Pada kegiatan ini peneliti berhadapan langsung dengan informan dengan mengadakan tanya jawab.

            Syarat-syarat informan yang dipilih sesuai dengan criteria sebagai berikut :

  1. Penutur asli bahasa Komering Dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur.
  2. Laki-laki atau perempuan yang menguasai bahasa komerig Dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur.
  3. Laki-laki atau perempuan berusia minimal 25 tahun dan maxsimal 50 tahun.
  4. Lahir dan selamanya hidupnya tingggal di daerah penelitian atau tidak pernah keluar daerah itu untuk selamanya.
  5. Alat pengucapan dan pendengaran  dalam keadaannormal.

 

3.3 Teknik Analisis Data

            Dalam menganalisis data digunakan langkah-langkah sebagai berikut:

a)      melakukan pengecekan yang terkumpul.

b)      mengklasifikasikan kata sapaan ke dalam bahasa darah komering di dalam bahasa Indonesia.

c)      menyeleksi data untuk menemukan apakah kata sapaan Bahada Komering Dialek Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur sudah mencakup (1) kata sapaan dalam keluarga, (2) kata sapaan dalam masyarakat, dan (3) kata sapaan mesra.

d)     setelah selesai data tersebut dianalisis dan dibuat dalam bentuk bangan yang menempatkan secara jelas kata sapaan yang terdapat di dalam bahasa daerah komering. Hasil analisis yang telah direvisi dituangkan di dalam kesimpulan hasil penelitian.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

 

            Seperti yang telah diuraikan Pada BAB III bahwa pada dasarnya teknik yang digunakan untuk medapat data dalam penelitian ini yakni observasi, wawancara dan perekaman. Selanjutnya di dalam BAB IV ini dikemukakan paparan data, baik data wawan cara maupun data kuesioner dan pembahasan data.

Pada bagian paparan data ada dua data yang akan dipaparkan yakni (1) data wawan cara mengenai gambaran secara umum sapaan yang digunakan oleh masyarakat Komering Kecamatan Madang Suku II Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur kuesioner di dalamnya dilakukan penggunaan sapaan oleh masyarakat Komering Kecamatan Madang Suku II Kabupaten Ogan Komerin Ulu Timur yang di contohkan kalimat yang mewakili satu atau beberpa kata sapaan.

            Misalnya :

            Ubak, Nyak  mintar sikola yo.

            Ayah, aku berangkat sekolah ya.

4.1  Hasil

4.1.1 Data Wawancara

            Data wawancara ini diperoleh dari satu orang sumber data atau informan yaitu  Bapak M. Padri, berusia 54 tahun dan merupakan dalah seorang penutur asli Komering yang berpropesi sebagai petani. Dari hasil wawan cara yang dilakukan diperoleh bahwa masyarakat Komering masih menggunakan dan memperhatikan sistem sapaan bahasa Komering kepada sesama, baik kepada orang yang masih ada hubungan dalam keluarga maupun kepada orang di luar hubungan keluarga. Namun, karena perkembangan pola kehidupan masyarakat maka kemajemukan pun mulai terjadi. Semula masyarakat Komering yang hanya terdiri dari lima kelompok yakni kelompok petani, tokoh masyarakat, yang memiliki keagamaan, pedagan, dan kelompok yang memiliki perekonomian yang baik. Tetapi, dengan berkembangnya pola kehidupan masyarakat, kelompok itu berkembang atau bertambah empat kelompok baru yakni hasil perkawinan silang, suku pendatang, kalangan pendidikan, dan kelompok yang memiliki perekonomian baik (menegah ke atas).

            Sebelum tahun 1980-an tidak pernah terjadi perkawinan silang antara peduduk asli Komering dengan suku lain, belum adanya suku pendatang terutama untuk menetap. Berbeda dengan sekarang (diperkirakan sejak tahun 1990-an) keempat gejal dalam kehidupan masyakat dan majunya perkembangan sarana komunikasi elektronik  yang sudah mulai dirasakan masyarakat sehingga pengaruh penggunaan bahasa, misalnya dalam bertutur sapa tidak dapat dihindari, walaupun begitu banyak telah ada masyarakat Komering yang sudah menggunakan bahasa Indonesia seperti kata Ayah dan Ibu, Inggris seperti Papa dan Mama, Arab seperti Abah dan Ustaz, Seperti bahasa jawa Mas dan Mbak.  Dari keempat bahasa yang sudah mulai berpegaruh kepada masyarakat Komering, tiga diantaranya digunakan untuk menyapa orang tua kandung laki-laki dan perempuan ataupun untuk menyapa orang yang mempunyai kedudukan atau profesi.

4.2 Pembahasan

            Kata sapaan dalam masyarakat komering terbagi tiga bentuk yakni katasapaan dalam dalam keluarga, katasaan dalam masyarakat, dan kata sapaan mesra.

4.2.1        Kata Sapaan dalam Keluarga (Hubungan Kekeluargaan Langsung)

Kata sapaan hubungan kekeluargaan langsung di dalam masyaakat Komering merupakan kata sapaan yang digunakan untuk menyapa seseorang yang masih memiliki garis keturunan. Misalnya Ayah/Ibu, Kakak/adik, kakek/nenek, anak kandung, cucu, dan saudara kandung ayah atau ibu. Dalam masyarakat Komering sapaan yang digunakan dalam hubungan kekeluargaan langsung adalah sebagai berikut:

1)      Ubak/Bak,

Kata sapaan di atas, merupakan kata sapaan yang digunakan oleh masyarakat Komering dalam menyapa orang tua kandung laki-laki. kata sapaan ubak atau bak digunakan oleh anak kepada orang tua kandung laki-laki. Kata sapaan ubak/bak merupakan kata sapaan asli masyarakat Komering.

Ubak, kilupai duit.

‘Ayah minta uang’

Ubak, nyak haga lapah ti Belitang rik kawanku.

‘Ayah, aku mau pergi ke Belitang sama temanku’

Dipa bolor dija bak ?

‘Dimana senter di sini yah’

2)      Umak/mak

Kata sapaan di atas merupakan sapaan yang digunakan untuk menyapa orang tua kandung perempuan. Kata sapaan umak atau mak digunakan oleh anak kandung laki-laki maupun perempuan untuk menyapa orang tua kandung perempuan. Dari kedua kata sapaan itu yang merupakan sapaan asli masyarakat Komering adalah Umak sedangkan Mak merupakan bentuk bagian dari Umak dan dalam pemakainya digunakan bentuk Umak atau Mak.

Umak, idan ubak mulang.

‘Ibu, kapan Ayah Pulang’

Mak, minta duit untuk amboli pulsa.

‘Buk, minta uang untuk beli pulsa’

3)      Kiyai/Yai dan Ayuk/Yuk

Kata sapaan di atas merupakan sapaan yang digunakan untuk menyapa saudara lebih yang lebih tua, laki-laki. Kata sapaan kiyai atau yai digunakan untuk oleh adik kandung laki-laki atau perempuan atau sepupu terhadap saudara laki-laki yang lebih tua derajatnya dalam keluarga. Sementara kata sapaan ayuk atau yuk digunakan untuk menyapa saudara perempuan yang lebih tua. Kata sapaan ayuk atau yuk digunakan oleh adik kandung maupun sepupu untuk menyapa saudara kandung atau sepupu yang lebih tua atau di tuakan. Dari kedua kata sapaan itu merupakan sapaan asli masyarakat Komering. Sapaan Kiyai/Yai yaitu sapaan untuk saudara laki-laki yang lebih yang lebih tua, sedangkan sapaan Ayuk/yuk yaitu sapaan untuk saudara  perempuan yang lebih tua.

Kiyai, cak Ubak sobok lagi susung ya di terminal.

‘Kaka, kata bapak sebentar lagi jemput dia di terminal’

Yai, kita mongan.

‘Kakak, kita makan’

Yuk, api kabar mu.

‘Apa kabar mu yuk’

4)      Dek (Adik)

Kata sapaan itu merupakan sapaan yang digunakan oleh masyarakat Komering untuk menyapa adik kandung laki-laki maupun perempuan yang lebih muda. Kata sapaan dek digunakan oleh saudara kandung laki-laki maupun perempuan untuk menyapa adik kandung yang lebih muda.

Dek, akuk ko duitku di kamar.

‘Dek, ambilkan uangku di kamar’

5)      Akas dan Tombai

Kata sapaan Akas dan Tombai  merupakan sapaan yang digunakan oleh masyarakat Komering untuk menyapa orang tua laki-laki dari orang tua kandung laki-kali maupun perempuan dan sementara kata sapaan tombai merupakan sapaan yang digunakan masyarkat Komering untuk menyap orang tua perempuan dari orang tua kandung maupun orang tua perempuan. Kata sapaan akas dan tombai digunakan oleh anak dari anak kandung maupun laki-laki maupun perempuan kepada orang tua laki-laki maupun perempuan.

Akas, nonti bingi mingi pok sikam.

‘Kakek, nanti malam bermalam tempat kami’

Tombai, nonti bingi  nyak makjadi mingi.

‘Nenek, Nanti malam aku tidak jadi bermalam’

6)      Tuyuk (Buyut)

Kata sapaan tuyuk digunakan oleh masyarakat Komering untuk menyapa anak dari cucu, dan sebaliknya anak dari cucu memanggil tuyuk untuk orang tua dari kakek.

Tuyuk, liak kopai sa, mata ku ja mak torang lagi.

‘Buyut, tolong liat ini, mata ku dah rabun’

7)      Bakwo

Kata sapaan Bakwo merupakan kata sapaan yang biasa digunakan oleh masyarakat Komering untuk menyapa orang tua laki-laki dari orang tua kandung laki-laki atau kakek. Kata sapaan bahwo digunakan oleh anak laki-laki maupun perempuan untuk menyapa saudara dari orang tua kandung laki-laki atau kakek

            Bakwo, nyak juga lading sija.

            ‘Kakek, saya saja yang minta pisau ini’

8)      Barob/Rob

Kata sapaan barob/rob merupakan kata sapaan yang biasa digunakan oleh masyarakat Komering untuk menyapa saudara laki-laki dari orang tua perempuan yang paling tua. Kata sapaan ini digunakan oleh anak dari saudara perempuan kepada sauadara laki-laki kandung dari ibu.

Barob, Cindi ja nakal.

‘Paman, Cindi nakal’

Rob, cak umak kita da mongan.

‘Paman, kata Ibu kita makan’

9)      Ilur

Kata sapaan ilur merupakan kata sapaan yang biasa digunakan oleh masyarakan Komering untuk menyapa saudara orang tua laki-laki kandung perempuan paling tua. Kata sapaan ilur digunakan oleh anak dari saudara laki-laki untuk menyapa saudara kandung perempuan yang lebih tua.

Ilur, kita da mulang.

‘Tante, kita pulang’

Ilur, nginjampai motor mu.

‘Tante, boleh minjam motornya’

10)  Paknik

Kata sapaan paknik merupakan kata sapaan yang biasa digunakan oleh masyarakat Komering untuk menyapa sauadara laki-laki orang tua kandung untuk laki-laki yang berstatus bungsu. Kata sapaan paknik digunakan oleh anak dari saudara laki-laki yang paling tua baik perempuan maupun laki-laki untuk menyapa saudara kandung laki-laki yang paling bungsu dari orang tua laki-laki.

Paknik, idan niku rumayok ?

‘Paman, kapan pulang kampung’

Paknik,  lamon niku rumayok dang lupa boliko nyak kanian.

‘Paman, kalau paman pulang kampung jangan lupa belikan makanan’

11)  Sabai dan Sada/Da (Besan)

Kata sapaan sabai merupakan kata sapaan yang biasa digunakan oleh masyarakat Komering untuk menyapa orang tua laki-laki dari menantu baik menantu laki-laki maupun menantu perempuan antara orang tua anak kandung dengan orang tua laki-laki dari menantu . sedangkan  sada/da kata sapaan yang biasa digunakan oleh masyarakat Komering untuk menyapa orang tua perempuan dari menantu baik menantu laki-laki maupun menantu perempuan antara orang tua anak kandung dengan orang tua perempuan dari menantu.

Sabai, pun sikan dua ja ti dija sangaja mak ngomik barih tian anak gusti  uda maring!

‘Besan, sengaja kami datang kesini, mengabarkan bahwa anak kita sedang sakit’

Sada, ga ti dipa gusti pohngun ?

‘Besan, mau pergi kemana?’

 

4.2.2 Kata Sapaan dalam Masyarakat Diluar kekeluargaan

            Kata sapaan dalam masyarakat adalah kata-kata yang digunakan untuk menyapa orang atau anak yang tidak mempunyai hubungan keluarga (Muzamil,1997:66). Kata sapaan yang digunakan sebagai penyapa dalam masyarakat umumnya sama dengan sapaan dalam persaudaraan langsung. Kata sapaan dalam masyarakat tersebut adalah (1) untuk orang lebih tua, (2) untuk orang yang lebih muda, (3) untuk orang yang sebaya, (4) untuk orang yang belum dikenal (5) untuk orang yang sudah meninggal dunia (Muzamil,1997:66-70).

1)      Kata sapaan untuk orang lebih tua

  1. Akas/Kas, Tombai/Bai, Mamang/Mang dan Bibik/Bik

Kata sapaan akas/kas, tombai/bai, mamang/mang dan bibik/bik  merupakan kata sapaan yang biasa digunakan oleh masyarakat Komering untuk menyapa orang yang dianggap lebih tua dengan nada yang lebih akrap.

Adok gawi kas….

‘Lagi ngapa kek’

Akas….., Amri lapAh ti dipa?

‘Kakek, Amri pergi kemana?’

Tombai api kaba?

‘Nenek apa kabar?’

Numpang Tanya mang, mamang pacak pok lombahan Amir.

‘Paman boleh saya bertanya, paman tau dimana rumahnya Amir’

Bik….., ambolipai gula.

‘Bibik, beli gula’

2)      Sapaan untuk orang yang lebih muda

            Kata sapaan dalam  masyarakat Komering dibenarkan seseorang menyapa orang atau anak yang lebih muda dengan menyebut nama saja. Untuk yang masih anak-anak baik laki-laki maupun perempuan akan disapa dengan adik atau dipanggil nama.

Udin, kita ngawil yuk.

‘Udin, kita mancing yuk’

Dik, tUlung antar pai cabi sija di lombahan bik Ida.

‘Adik, tolong antarkan cabe ini di rumah bibik Ida’

 

3)      Sapaan untuk orang yang sebaya.

Ada tiga kata sapaan dalam  masyarakat Komering yang ditujukan untuk orang yang sebaya dengan menyebut nama baik laki-laki maupun perempuan yaitu; (1) penyapa untuk sama-sama tua; (2) penyapa untuk sama-sama muda; (3) penyapa untuk sama-sama anak-anak (Muzamil, 1997:68)

(1)   Penyapa untuk orang yang sama-sama tua. Penyapa yang diguanakan untuk orang yang sama-sama tua yaitu saling menyebut nama.

Ibrahim, jakpa?…

‘Ibrahim, darimana’

Udin, kita lapah.

‘Udin, kita jalan’

(2)   Penyapa untuk orang yang sama-sama muda. Penyapa yang digunakan untuk orang yang sama-sama muda digunakan juga saling menyebut nama, tetapi terdapat juga penyapa khusus yang digunakan  sebagai penyapa untuk sama-sama muda.

Api kabar him?….(kata sapaan ‘him’ menunjukkan keakraban)

‘Apa kabar?’

Haga dipa kolpah?…(kata sapaan ‘kolpah’ menunjukkan keakraban)

‘Mau kemana kawan?….’

(3)   Penyapa untuk orang yang sama-sama anak-anak. Penyapa yang digunakan untuk orang yang sama-sama kecil atau anak-anak yaitu saling menyebut nama.

Alan, nginjampai matolut!

‘Alan, minjam pensil!’

Nia, jomoh pagi kita lapah-lapah ti PIM.

‘Nia, besok pagi kita jalan-jalan ke PIM’ 

4)      Sapaan untuk orang yang belum dikenal

Kata sapaan yang digunakan oleh masyarakat Komering apabila sesorang terpaksa harus berbicara dengan orang yang belum dikenal, penyapa harus menyesuaikan dengan perbandingan umur antara pembicara dan lawan bicara.

Mang, numpang pai butanya, dipa pok lombahan Pak Kades?

‘Paman, bolehkah saya bertanya, dimana rumahnya Pak Kades’

            Bi…..ik,  ambolipai siabuku.

            ‘Bibik, beli garam’

            Yai…, adok gawi muna?

            ‘Kakak, lagi ngapa?’

            Kas (akas) guwaiko pai nyak bubu.

            ‘Kakek, tolong buatkan saya bubu’

5)      Sapaan untuk orang yang meninggal dunia

Kata sapaan yang diguanakan oleh masyarakat Komering untuk menyapa orang yang sudah meningga dunia untuk laki-laki adalah Almarhum, sedangkan untuk perempuan adalah Almarhumah.

Dia mantu Alamarhumah nenek Zakiah.

‘Dia menantu Almarhumah nenek Zakiah’

Almarhum Akas Hanapi di kubur ko  di pemakaman umum.

‘Almarhum kakek Hanapi di makamkan di pemakaman umun’

2.1.2.3 Kata Sapaan Mesra

            Kata sapaan mesra atau kesayangan yang diguanakan oleh masyarakat Komering hanya dapat dilakaukan oleh kakek/nenek kepada cucu atau cicitnya dari anak pertaman baik laki-laki maupun perempuan. Untuk cucu pertama laki-lali dari anak laki-laki biasanya di gunakan dengan menambah nama kakeknya, sementara untuk cucu kedua dan seterusnya dari anak pertama laki-laki  maupun perempuan biasanya di panggil dengan ‘bunga’, ‘pinah’, ‘lanang’ dan ‘aji’. Untuk cucu pertama perempuan dari anak perempuan biasanya dipanggil nama neneknya.

            Pian, (dari nama kakeknya Sopian) tulung akuk pai imbir suda.

            ‘Pian, (dari nama kekeknya Sopian) tolong ambil ember itu’

            Amah, (dari nama nenek Salamah) dijapai niku na.

            ‘Amah, kesini dulu’

            Bunga/pinah,  dang nakal.

            ‘Bunga, jangan nakal’

            Lanang, di dudu akas niku na.

            ‘Lanang, di panggi kakek’

            Aji, kita pai ti lobak.

            ‘Aji, kita ke sawah’

                                                       

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1  SIMPULAN

            Berdasarkan paparan dan pembahasan data pada Bab IV diperoleh beberpa kesimpulan sebagai berikut.

  1. Dari sisi bentuk, sapaan masyarakat Komering terdapat bentuk pola kombinasi utuh dan sebagian utuh. Bentuk-bentuk sapaan seperti itu dapat terjadi di dalam kata sapaan dalam keluarga (hubungan kekeluargaan langsung) maupun kata sapaan dalam masyarakat diluar kekeluargaan, serta kata sapaan mesra atau kesayangan.
  2. Penggunaan kata sapaan dalam  masyarakat Komering selain ditentukan oleh faktor dalam kekeluargaan (hubungan kekeluargaan langsung) dan di luar kekeluargaan, serta kata sapaan mesra atau kesayangan.  

5.2 Saran

            Dalam hubungannya dengan penelitian ini khusunya, dan peneliti bahasa daerah umumnya, dikemukakan sara-saran, terutama untuk masyarakat Komering, Pusat Bahasa dan Balai Bahasa, dan peneliti berikutnya.

  1. Sebagai upaya melestarikan keberdayaan bahasa daerah, dalam berkomunikasi sehari-hari atau bertegur-sapa masyarakat hendaknya lebih mengutamakan bahasa daerah.
  2. Pusat Bahasa dan dalam hal ini juga Balai Bahasa yang menangani masalah bahasa hendaknya lebih mengintensifkan aktivitas penginvertarisasian bahasa daerah sehingga data mengenai kekayaan budaya dalam bentuk bahasa dapat diketahui secara pasti, baik jumlah maupun sebagai dasar pengetahuan bila diperlukan.
  3. Kepada peneliti berikutnnya, terutama yang berminat terhadap permasalahan penelitian ini, dapat mengadakan penelitian lanjutan sehingga akan didapat hasil atau temuan yang lebih lengkap dan sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Alwasilah, A. Chaedar. 1997. Pengantar Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa.

Chaer, Abdul. 1997. Tata  Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta : Rhinike Cipta.

Chaer, Abdul. 2000. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta : Rhinike Cipta.

Keraf. Gorys. 1994. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Berbahasa. Jakarta:  Nusa Indah.

Moeliono, Anton, M. 1986. Santun Bahasa. Jakarta : PT Gramedia.

Muzamil, A.R. dan M. Yunus. 1997. Sistem Sapaan Dalam Bahasa Melayu Sambas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen  Pendidikan dan Kebudayaan.

Sudaryanto. 1992. Metode Linguistik Bagian Pertama ke Arah Memahami Metode Linguistik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Sudharmono. 1988. Garis-Garis Besar Haluan Negara. Jakarta: Proyek Pendidikan Pengembangan dan Pembinaan Penataran P-4 (BP-7 Pusat).

Syaf Yahya, Leni. 2000. Kata Sapaan Bahasa Minangkabau  di Kabupaten Agam. Jakarta : Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.     

Tim Penyunting. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar    Bahasa Indonesia.  Jakarta : Balai Pustaka.

Tim Penyunting. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 1993. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta : Grasindo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s